Inilah Penjelasan Lengkap Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab
by IslamMedia
Islamedia.co - Saat
ini banyak orang bilang: “Tidak setiap muslim harus belajar bahasa
Arab, itu kan hanya untuk para ulama. Saya kan hanya muslim biasa saja,
yang penting saya shalat.”
“Saya tidak perlu belajar bahasa ini, kalau Allah mau saya paham bahasa ini, maka ia pasti jadikan saya orang Arab.”
“Pasti ada hikmah dari Allah, ia jadikan sebagian kita orang Turki, Pakistan, Bangladesh, Eropa atau orang manapun juga.”
“Allah
kan tidak menciptakan semua orang itu dari Arab, lalu mengapa saya harus
belajar bahasa Arab? Bukan salah saya dong kalau saya tidak paham.”
Atau ada juga pendapat lain yang mengatakan,
“Allah
kan menurunkan Al-Qur’an bukan hanya untuk orang Arab. Lalu kepada siapa
Ia berikan al-Qur’an? Ia berikan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk
seluruh umat manusia.”
Kalau
kita dengar pendapat-pendapat seperti ini, anda mungkin akan berfikir:
“Yah..itu masuk akal, tidak ada masalah baca Al-Qur’an terjemahan bahasa
Urdu, terjemahan bahasa Persia, terjemahan bahasa Inggris dan
lain-lain. Karena si penterjemah pasti paham apa yang ia lakukan, ia
pasti bukan orang yang sembarangan. Kok kamu sepelekan hasil kerja
mereka? Dan bagaimana bisa kamu justru berkata ‘Tidak ada yang sebanding
dengan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, karena itu kamu harus belajar
bahasa Arab’.
Kita akan menjawab permasalahan ini, insha Allah.
Ini
memang pemikiran yang banyak dimiliki muslim saat ini, banyak muslim
berfikir seperti itu. Saya akan coba bahas dari Al-Qur’an terlebih
dahulu. Bila kamu tanya 1 pertanyaan ini pada muslimin dari manapun
mereka berasal, “Mengapa bahasa Arab itu penting?” Setiap muslimin, baik
yang paham islam atau yang tidak terlalu paham Islam, baik yang
religius ataupun yang tidak terlalu religius, sebagian besar mereka
pasti akan memberi jawaban yang sama : bahasa Arab itu penting karena
al-Qur’an. Itu jawaban pertama yang akan diberikan.
Al-Qur’an Sebagai Pesan, Sekaligus Sebagai Mukjizat
Di
setiap negeri muslim dimanapun mereka berada, jika mereka baca sesuatu
yang bukan bahasa Arab, meskipun dari al-Qur’an, maka mereka tak akan
anggap itu adalah al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut: Alhamdulillahi rabbil
alamin. Al-Qur’an tidak menyebut: segala puji bagi Allah Tuhan Semesta
Alam. Itu bukan Al-Qur’an. Jika kamu tanya, yang mana Al-Qur’an? Mereka
menjawab, yang Alhamdulillahi rabbil alamin, bukan yang terjemahan. Hal
ini sudah dipahami oleh setiap muslim. Tapi saya mau beri argumen yang
lebih mendalam.
Ketika
Allah Azza wa Jalla mengutus seorang rasul, ia akan berikan Mukjizat
kepada sang Nabi untuk membantu tugasnya. Ini adalah aqidah dari setiap
muslim, hal yang harus mereka yakini. Seorang nabi datang, dan akan
memberitahukan hal yang sulit untuk diterima. Pagi ini saya ceritakan
hal yang sama tentang ini pada seseorang. Coba kamu bayangkan kamu hidup
1000 tahun yang lalu, kemudian seorang tetanggamu datang kepadamu, lalu
ia bilang: “Semalam seorang malaikat datang kepadaku memberikan wahyu
dan malaikat itu memberitahu bahwa aku adalah Rasul Allah. Mulai
sekarang apa yang saya katakan itu datangnya dari Allah yang dikirim
melalui malaikat ini, bukan dari saya. Kamu selama ini mengenal saya
sebagai tetangga, tapi mulai sekarang saya adalah Rasul Allah. Selain
kamu harus yakin bahwa saya adalah utusan Allah, kamu pun harus
melakukan segala yang saya perintahkan. Karena sebenarnya bukan saya
yang memberi perintah kepadamu, saya memberimu perintah atas nama
Allah.” Bayangkan bila tetanggamu memberitahu hal semacam ini. Sekarang
bila ada yang memberitahukan hal semacam ini padamu, kita sebut ia
adalah orang gila. Karena kita tahu, tidak ada lagi Rasul yang akan
datang. Bayangkan situasi semacam ini beberapa ratus tahun yang lalu,
tentu tidak mudah untuk meyakininya. Terlebih bila yang menyampaikan
adalah pamanmu atau sepupumu sendiri. Apakah mudah meyakininya? Tentu
tidak. Kebanyakan orang melihatnya sebagai hal yang lucu. “Bisa saya
lihat gak malaikatnya?”, “Apa kamu yakin ada malaikat yang datang
padamu?”, “Makan apa kamu tadi malam?”, “Apa kamu baik-baik saja?”
Mereka pikir orang semacam ini sedang bercanda, pasti sedang tidak
serius, atau dianggap memiliki kelainan psikologis. “Mungkin terjadi
sesuatu padanya, karena biasanya ia normal tapi kenapa sekarang bicara
seperti orang gila?”
Jika
kita lihat Al-Qur’an, apa yang kaumnya katakan tentang Nabi Muhammad?
Majnun (gila), sahir (tukang sihir), mashur. Ia tukang sihir. Ia
kerasukan jin, ia gila, maka jangan dengarkan dia. Mungkin kita
berfikir, “Kok bisa ya mereka menghina Rasulullah? Pasti mereka itu
orang-orang yang kejam.” Tapi jika kamu letakkan dirimu di kondisi
mereka saat itu, maka kamu akan paham, bahwa jika Rasulullah memintamu
untuk percaya, itu bukanlah hal yang mudah. Pertama, ia memintamu untuk
percaya atas sesuatu yang tidak dapat kamu lihat. Percaya akan adanya
Tuhan itu mudah. Kalau saya bertemu orang lalu saya katakan: “Ada
sesuatu yang menciptakan segalanya dan Ia maha Kuasa, apa kamu tahu
itu?” Sebagian besar dari mereka akan katakan: “Saya sudah percaya akan
adanya Tuhan. Itu tidak sulit untuk dipercaya.” Tapi jika ada yang
mengatakan: “Tuhan telah menunjuk seserorang dan berbicara pada orang
itu, kemudian memberitahukan padanya apa yang harus kita lakukan
untuk-Nya.” Bagian inilah yang sulit, karena secara ilmiah, manusia
tidak suka mengikuti manusia lainnya. Lebih mudah percaya kepada Allah
ketimbang percaya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ataupun
kepada nabi-nabi lainnya, sama saja masalahnya.
Maka
ketika Allah mengutus Nabi, Allah akan memberikan sesuatu mukjizat untuk
membantu tugas Rasulnya, sehingga kaumnya lebih mudah untuk yakin.
Contohnya, pada Nabi Shaleh Alaihis Salaam, kaumnya tidak menerima apa
yang ia sampaikan, mereka justru menghinanya. Allah berikan kepadanya
unta betina, naqatullah (Unta Allah), unta itu muncul dari bebatuan yang
terbelah, ia minum dari seluruh danau yang ada. Ini hanya mungkin bila
datangnya dari Allah. Ketika kaumnya melihat itu, maka mereka yakin
bahwa Nabi Shaleh itu memang utusan dari Allah.
Jika
kamu berdiri disamping Nabi Musa Alaihis Salaam, ketika laut sedang
terbelah, kamu sebelumnya mungkin akan ragu, “Orang ini mau membunuh
kita ya?”. Ini ada di kitab perjanjian lama. Beberapa mereka
menceritakan hal ini. “Orang ini ingin kita mati, kita punya 2 pilihan,
apakah kita bani Israil tenggelam disini atau kita dibantai oleh
tentaranya Fir’aun.” Bila saat itu kamu melihat laut terbelah, apa kamu
masih ragu kalau ia seorang rasul Allah? Tidak akan, keraguanmu akan
hilang bila bertemu kondisi seperti itu. Ia memang Rasul Allah. Karena
kamu melihat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lainnya,
yang hanya mungkin datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Telah
kita pahami bahwa semua nabi memiliki tugas yang berat. Pesan yang akan
mereka sampaikan kepada umatnya itu memang berat dan untuk menolong para
Nabi maka Allah berikan mukjizat. Jika kita lihat nabi terakhir,
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah memberikan pesan untuk
beliau dan kaumnya, yang sekarang kita sebut Al-Qur’an. Allah juga
berikan mukjizat kepadanya, kita sebut apa mukjizatnya? Al-Qur’an juga.
Al-Qur’an itu pesan untuk kaumnya sekaligus sebagai mukjizat.
Nabi
Shaleh Alaihis Salaam dan nabi Musa Alaihis Salaam memiliki pesan yang
harus disampaikan kepada kaumnya, namun secara terpisah mereka pun
diberikan Mukjizat. Nabi Isa Alaihis Salaam juga memiliki pesan untuk
kaumnya, tapi secara terpisah terdapat juga mukjizat. Dua hal yang
berbeda. Tapi untuk Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam, apa yang Allah berikan? Satu saja. Al-Qur’an sebagai pesan,
sekaligus sebagai mukjizat.
Saya
pernah ceritakan hal ini kepada anak kelas 6 SD. Saya mengajar pelajaran
Islam, dan saya sampaikan hal ini pada mereka. Kemudian salah satu
murid saya berkata:
“Ustadz Nouman, ini gak adil.”
“Apanya yang gak adil?”
“Nabi-nabi
yang lain diberi benda yang keren, tongkat yang bisa jadi ular, orang
mati bisa hidup lagi, laut yang terbelah, ini kan keren semua? Kok kita
cuma dikasih buku doang?”
Perbedaan Mendasar Antara Mukjizat Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi Sebelumnya
Ada
perbedaan yang mendasar antara apa yang Allah berikan pada nabi-nabi
sebelumnya dengan apa yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam. Perbedaan mendasar itu adalah yang Allah berikan
untuk nabi-nabi sebelumnya adalah apa yang dapat dilihat oleh mata.
Namun yang Allah berikan pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
sebagian besar adalah sesuatu yang dapat didengar.
Allah
berkata di dalam al-Qur’an, Yasmauna (mereka mendengarkan), fastamiulahu
(dengarkan dengan baik), sami’na wa ata’na (kami dengar dan kami taat),
inna sami’na Qur’anan ajaban (kami mendengar Qur’an yang unik). Yang
terpenting pada al-Qur’an adalah mendengarkan. Allah menggambarkan tugas
Rasulullah seperti ini: “yatlu alaihim ayatihi, Dia (nabi Muhammad)
membacakan ayat kepada mereka (para sahabat).” Nabi tidak memberikan
naskah untuk mereka baca. Al-Qur’an dalam bentuk buku itu belakangan.
Apa yang terlebih dahulu dilakukan oleh Nabi? Beliau membuat mereka
mendengarkannya. Beliau menyampaikan Al-Qur’an melalui pendengaran.
Sedangkan mukjizat nabi-nabi yang lain itu melalui penglihatan.
Kelihatan bedanya?
Perbedaan
lainnya adalah jika saya cukup beruntung dapat hidup di jamannya
Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, misalnya saja di zamannya Nabi Isa
Alaihis Salaam saya melihat ia memperlihatkan mukjizatnya lalu saya
katakan pada anak saya: “Isa itu seorang Nabi karena ia memperlihatkan
mukjizatnya, ayah lihat sendiri.” Anak saya percaya kepadaku, kemudian
ia ajarkan hal yang sama pada anaknya kelak. Anaknya ajarkan hal yang
sama pada anaknya lagi. Tapi si kakek buyut yang melihatnya secara
langsung memiliki keyakinan berbeda karena ia melihat dengan matanya
sendiri. Tapi sang cucu, apakah ia akan memiliki keyakinan yang sama
dengan kakek buyutnya itu? Tentu berbeda kan? Ia percaya karena orang
tuanya cerita begitu, tapi bukan sesuatu yang ia lihat langsung. Kita
kesampingkan sebentar bagian ini. Kita tadi kan baru bahas bahwa
Al-Qur’an itu sebagai pesan sekaligus sebagai mukjizat.
Satu Contoh Kecil Mukjizat Al Qur’an
Allah
Azza wa Jalla memberikan 2 hal di Al-Qur’an, ketika seseorang
menterjemahkan Al-Qur’an, bahkan untuk terjemahan terbaik sekalipun. Si
penterjemah berusaha untuk menterjemahkan pesan di dalam al-Qur’an. Tapi
mustahil bagi si penterjemah untuk ‘menterjemahkan’ mukjizat di dalam
Al-Qur’an. Mukjizat di dalam Al-Qur’an hanya bisa dirasakan dalam
kata-kata pilihan Allah, itulah yang membuatnya menjadi mukjizat. Maka
jika saya coba sampaikan pesan dalam pesan Bahasa Urdu, Bahasa Inggris
atau bahasa lainnya, saya mungkin dapat jelaskan maksud pesan dari
ayatnya tesebut. Tapi saya tidak akan bisa mempelihatkan sisi mukjizat
atau keindahan dari ayat tersebut, ini mustahil.
Saya
akan coba tunjukkan, tapi tidak ada papan tulis di sini. Kita coba
secara lisan saja, Allah Azza wa Jalla mengatakan di surat al-Muddatsir:
“Wa Robbaka Fakabbir” (QS: 74: 3). Huruf ‘wa’ di awal itu seperti huruf
besar jika kamu menulis awal sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Dalam
bahasa Arab, huruf ‘wa’ ini bisa digunakan untuk banyak hal, lebih dari
20 fungsinya. Salah satunya adalah untuk memulai suatu kalimat baru.
Jika kamu lihat huruf ‘wa’ diawal maka itu adalah kalimat yang baru.
Kata-kata selanjutnya Robbaka Fakabbir. Sekarang dengarkan baik-baik.
Apa huruf pertama yang kamu dengar ketika saya baca kata, ‘Robbaka’? Apa
huruf Arab yang paling pertama kamu dengar? Apa semuanya mendengar
huruf ‘Ro’? Pada Robbaka? Sekarang dengarkan huruf paling akhirnya,
‘robbaka fakabbiR’. Apa huruf terakhir yang kamu dengar? Huruf ‘ro’
juga.
Ok.
Sekarang perhatikan huruf yang kedua, roBBaka, apa huruf yang kedua?
Huruf ‘ba’. Sekarang dengarkan huruf yang kedua dari akhir, ‘robbaka
fakaBBir’ apa huruf kedua dari yang paling akhir? Huruf ‘Ba’ juga.
‘robbaKa’,
apa huruf yang ketiga? Huruf ‘Ka’. ‘faKAbbir, huruf apa yang ketiga
dari akhir? Huruf ‘Ka’ juga. Kamu memperhatikan sesuatu nggak? Kalau di
bolak-balik, hurufnya akan sama. Dalam bahasa Inggris, yang semacam ini
disebut Palindrome, kata yang sama saja kalau dibaca bolak-balik.
Seperti kata ‘Bob’ atau kata ‘race car’. Kata ‘race car’ ini Palindrome
yang bagus dalam bahasa Inggris.
Allah
Azza wa Jalla memberikan kata-kata kepada Nabi, yang tidak nabi tulis.
“Kamu tidak pernah menulis sesuatu apapun dengan tanganmu.” (QS:29: 48),
kamu tidak paham caranya menulis. Ini hanya mengandalkan lisan bagi
Rasulullah ketika Allah sampaikan perkataan-Nya. Ketika Nabi mengajarkan
sesuatu, dia tidak menambahkan kata-kata atau mengkoreksi kalimat wahyu
yang telah ia bacakan, “Bukan itu yang saya maksud, coba ganti cara
saya menyampaikannya”, tidak seperti itu. Tapi kalimat yang Nabi
Muhammad katakan itu sama persis dengan apa yang diinstruksikan oleh
Allah.
Yang
menjadi tantangan bagi manusia adalah terjemahan sederhana dari ayat ini
adalah: “Nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah.” Itu terjemahan
sederhana dari ‘wa robbaka fakabbir’. Sekarang coba katakan kalimat
“nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah”, dalam bahasa Inggris,
Perancis, Jerman, Jepang, Tiongkok, Itali, Rusia, Urdu, Persia atau
dalam bahasa apapun juga. Katakan dalam bahasa apapun, supaya kalimat
itu bisa dibaca bolak-balik (Palindrome). Dan kamu hanya boleh coba
mengatakannya 1 kali saja, gak boleh kamu tulis ataupun melihat kamus
terlebih dahulu. Seberapa mungkin kamu bisa lakukan itu? Subhanallah.
Saya bisa terjemahkan maksud ayatnya, tapi bisakah saya terjemahkan
mukjizatnya kedalam Bahasa Inggris? Kalau saya katakan: “nyatakanlah
bahwa keagungan hanya milik Allah”. Kamu akan paham maksud pesannya.
Tapi apakah kamu juga dapat mukjizatnya? Tidak. Mukjizat dari Allah
hanya ada dalam bahasa Arab, ini hanya 1 contoh kecilnya saja.
Setiap
ayat di Al-Qur’an memiliki mukjizatnya masing-masing. Yang paling tragis
saat ini adalah, kebanyakan orang saat ini tidak mengetahui pesan dari
Al-Qur’an. Dan bagi mereka yang paham maksud Al-Qur’an, kebanyakan dari
mereka tidak dapat merasakan mukjizat dari Al-Qur’an. Saya ingatkan
lagi, Al-Qur’an punya 2 hal sekaligus: Pesan dan Mukjizat. Ini bagaikan
suatu harta karun yang hampir hilang untuk sebagian besar kaum muslimin.
Bayangkan, bila anak kita paham 5 ayat saja, misalkan dia menghafal
surat al-Ikhlas atau surat al-Kautsar. Jika mereka paham 5 ayat ini,
mereka tahu apa yang dimaksudkan ayat ini dan ia dapat mengerti mukjizat
dari ayat ini. Apakah mereka akan merasakan keimanan yang berbeda
terhadap ayat itu? Ini akan lebih berarti bagi mereka. Inilah yang
menjadi perbedaan antara keimanan kita dan keimanan para sahabat nabi.
Salah satu dari banyak sebabnya adalah, ketika mereka mendengar
Al-Qur’an mereka mendengar maksud/pesan dan mukjizat-Nya sekaligus.
Kebanyak dari kita paling hanya mendapat 1 halnya saja. Ini salah satu
alasan mengapa kita harus belajar bahasa Arab, karena kita ingin
menghargai pesan dari Al-Qur’an, serta kita ingin merasakan keindahan
dari mukjizatnya.
Hilangnya Keindahan Mukjizat dari Al Qur’an
Saya
ingin beri 1 contoh sederhananya saja, sebagian dari anda mungkin pernah
menulis puisi karena itu bagian dari tugas sekolah yang kemudian kamu
bacakan puisi tersebut. Kita juga mungkin pernah membaca literatur
seperti shakespeare atau diantara anda ada yang mungkin menyukai
literatur berbahasa Urdu. Kamu membaca puisi, menilai suatu lagu atau
literatur artistik lainnya dalam berbagai bahasa. Ketika anda
menterjemahkan suatu puisi dari suatu bahasa ke bahasa lainnya, ketika
anda menterjemahkan karya shakespeare dari bahasa Inggris ke bahasa Urdu
atau kamu menterjemahkan karya Iqba ke dalam bahasa Inggris, apakah
keindahan bahasanya akan tetap sama? Kata-kata antar bahasa manusia saja
kehilangan keindahannya bila diterjemahkan dari bahasa yang satu ke
bahasa yang lain. Saya tak membicarakan maksud katanya, tapi
keindahannya. Puisi itu kan tentang keindahan kan? Yang hilang itu sisi
keindahannya. Kita sedang membicarakan kata-kata Allah. Apakah ada yang
meragukan keindahan bahasaNya? Dan jika kita terjemahkan perkataan
Allah tersebut, apakah akan ada keindahan yang hilang?
Untuk
menjabarkan hilangnya sisi keindahan ini saya akan beri contoh
perumpamaan dari As-Suyuthi r.a. As Sayuti r.a. adalah salah satu dari
ulama pertama yang menuliskan ilmu pengetahuan yang ada dalam Al-Qur’an.
Beliau berkata, jika seseorang dapat membayangkan jarak antara sang
Pencipta dengan ciptaan-Nya. Bayangkan betapa tingginya Allah di atas
makhluk ciptaan-Nya, maka kamu sudah bisa membayangkan jarak antara
kata-kata sang Pencipta dengan kata-kata ciptaan makhluknya-Nya.
Al-Qur’an adalah perkataan sang pencipta, sementara, terjemahan adalah
kata-kata makhluk ciptaan-Nya, sudah terbayang beda jaraknya?
Subhanallah. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang yang satu bisa
menggantikan yang lain, tidak mungkin bisa berpendapat seperti itu. Ini
baru poin yang ke satu, hilangnya mukjizat dari al-Qur’an.
Pentingnya Bahasa Arab
Poin
yang kedua akan pentingnya bahasa Arab adalah, Allah di dalam al-Qur’an
mengatakan. Bahwa Dia menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa
Arab. “Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya
kamu memahami(nya).” (QS: 43: 3). Ada 11 kali Allah menjelaskan bahwa
Al-Qur’an sebagai Bahasa Arab. Setiap muslim percaya bahwa setiap kata
dari al-Qur’an itu dari Allah, kamu tidak boleh menambahkan atau
menguranginya.
Jika
Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu adalah Al-Hakim seperti di surat
Yasin. “Yaasin wal Quranil hakim” (Demi al-Qur’an yang penuh hikmah)”,
kita tak akan bisa memisahkan antara Al-Qur’an dan hikmah, karena Allah
meletakkannya bersamaan. Ketika Allah katakan, Quranan Arabiyan, apa 2
hal yang tidak bisa dipisahkan? Al-Qur’an dan Bahasa Arab. Allah
letakkan bersama, kita tidak bisa pisahkan. Ditambah pula Allah katakan
‘laalakum tak’kilun’. Terjemah sederhananya adalah: “Sesungguhnya Kami
menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).”
Allah tidak hanya meletakkan kata ‘memahami ‘di dekat kata ‘al-Qur’an’,
tapi Dia juga letakkan kata itu di dekat kata ‘al-Qur’an dalam bahasa
Arab’. Maka kunci untuk memahami Al-Qur’an itu apa? Bahasa Arab. Ini
baru poin yang kedua. Berapa kali Allah menyebut kata ‘Bahasa Arab’di
dalam al-Qur’an? 11 kali.
Hilangnya Sisi Keindahan Al Qur’an
Sekarang
poin yang ketiga, apalagi yang hilang selain sisi keindahannya? Saya
akan beri contohnya lagi, insha Allah. Kata ‘Nafs’. Pernah dengar kata
ini sebelumnya? Kata ‘Ruh’. Pernah dengar kata ini sebelumnya? Saya akan
bacakan 2 ayat. Ayat yang pertama mengandung kata ‘Nafs’ dan ayat kedua
mengandung kata ‘Ruh’.
“Kullu nafsin dzaiqatul maut.” (QS: 3: 185), huruf mana yang kamu dengar? Apa semuanya mendengar kata ‘Nafs’?
Kemudian di surat Al-Isra, Allah katakan: “Yas’alunaka anniruh”. Huruf mana yang kamu dengar? Huruf ‘Ruh’.
Terjemahan
bahasa Inggris dari ayat Kullu nafsin dzaiqatul maut” adalah: ‘Setiap
yang berjiwa pasti akan merasakan mati.’ Coba katakan, apa Bahasa
Inggris untuk kata ‘Nafs’? “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan
mati.” 1 kata. “Soul.” Ketika Allah Azza wa Jalla berkata, ‘Yas’alunaka
anirruh’ terjemahannya adalah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh
(soul).” Ada 2 kata dalam bahasa Arab. Yakni ‘Nafs’ dan ‘Ruh’, yang
dalam bahasa Inggris arti keduanya sama saja, ‘Jiwa (soul)’. Allah
menyebutkan 2 hal, tapi si penterjemah bahasa Inggris cuma punya 1
pilihan saja, yakni kata ‘Jiwa (soul)’. Maka jika kita membaca
terjemahan perkataan Allah dalam bahasa Inggris, bahasa Urdu atau bahasa
lainnya. Maka kita jelas kehilangan sesuatu. Bahasa Arab itu amat amat
sangat dalam. Saya tidak bisa katakan seberapa dalam, karena saya
sendiri belum tahu betul seberapa dalamnya. Saya juga masih belajar.
Tapi
saya kasih contoh ini. Allah mengucapkan kata ‘Ins’, yang artinya
manusia. Allah juga mengucapkan kata ‘Insan’ yang artinya juga manusia.
Allah mengucapkan kata ‘Alasi’, yang artinya juga manusia. Allah juga
mengucapkan kata ‘Nas’, yang artinya juga manusia. Allah juga
mengucapkan kata ‘Basar’, yang artinya juga manusia. Juga kata ‘Insiya’,
yang artinya manusia di surat Maryam. Semua kata tadi itu artinya
manusia kan? Kalau semua kata Arab tadi diterjemahkan kamu cuma dapat 1
kata saja; manusia. Tapi Allah menggunakan banyak kata yang berbeda.
Jika Allah menggunakan kata Arab yang berbeda, apakah akan ada bedanya?
Kalau yang dimaksudkan itu sama, tentu Allah akan menggunakan 1 kata
yang sama saja. 1 kata dalam bahasa Arab digunakan khusus untuk maksud
tertentu. Ada 10 kata Arab yang artinya ‘Kemarahan’, bahkan banyak
sekali kata yang artinya ‘Melihat’. Banyak juga kata Arab untuk
menggambarkan ‘kesabaran’, digunakan untuk maksud yang berbeda-beda.
Allah pun menggunakan kata yang berbeda-beda di berbagai tempat.
Saya
ceritakan nih, ini contoh menarik lainnya terkait masalah kosa kata.
Allah Azza wa Jalla terkadang menggunakan kata ‘Qalb’, banyak diantara
kamu pasti sudah tau artinya, apa artinya? Artinya, Hati.
Terkadang
Allah menggunakan kata ‘Fuad’. Apa artinya ‘Fuad’? Hati. Allah
menggunakan kata ‘Qalb’ dan juga kata ‘Fuad’. ‘Tsabit Qulubana’, Allah
menggunakan kata ‘Qulub’.
‘linusabita
bini fuadakh’ apa yang Allah gunakan kali ini? Kata ‘Fuad’ . Terkadang
‘Qalb’, terkadang kata ‘Fuad’. Keduanya dalam terjemahan bahasa Inggris
artinya apa? “Hati.”
Sekarang
perhatikan ayat yang satu ini, saya yakin ini surat al-Qashash (QS: 28:
10) “Wa ‘Aşbaha Fu’adu ‘Ummi Muusa Faarighaan……...”. Yang mana Allah
gunakan? Kata ‘Fuad’ atau kata ‘Qalb’?. Kamu dengar kata ‘fuad’? Coba
kita lanjutkan ayatnya. (QS: 28:10) “………………In Kaadat Latubdii Bihi
Lawlaa ‘An Rabaţnaa `Alaa Qalbihaa….”. Sekarang kata apa yang digunakan?
Di ayat yang sama. Di awal menggunakan kata ‘Fuad’, dan kemudian
digunakan kata ‘Qalb’. Kalau kamu baca terjemahan, dua kata tadi akan
diterjemahkan menjadi “Hati”. Allah tidak memaksudkan hal yang sama.
Karena bila ia bermaksud memberikan arti yang sama, maka akan pakai kata
yang sama.
Kita
harus perhatikan setiap kata yang Allah gunakan, karena setiap kata yang
digunakan dengan sangat tepat dan mustahil untuk memilih bahasa lain
untuk bisa sangat amat tepat seperti itu, sangat sulit. Misalkan kamu
ambil kata ‘kemarahan’ yang dalam bahasa Arab adalah ‘Ghodob’. Kata Arab
tadi bisa juga kamu terjemahkan jadi ‘kemurkaan’. Kebanyakan orang
bahkan tidak tahu apa bedanya ‘kemarahan’ dan ‘kemurkaan’. Sepertinya
sama saja kan? “Dia penuh kemarahan, dia penuh kemurkaan”. Kita sering
tukar-menukar dalam menggunakan 2 kata ini.
Dalam
Bahasa Arab, tidak ada suatu kata yang dapat mengganti dengan sempurna
kata yang lain, setiap kata memiliki rasa dan konotasinya masing-masing.
Maka, kata-kata Allah itu sulit dikomunikasikan ke dalam bahasa lain.
Paling kamu hanya paham maksud utamanya saja. Tapi jika kamu ingin
benar-benar tepat, maka kamu harus menggunakan bahasa Arab. Ini poin
ketiga, perihal tata bahasa.
Susunan Kata, Tata Bahasa dan Struktur Kata
Poin
yang keempat, berkaitan dengan susunan kata, tata bahasa dan struktur
kata. Sebgaian dari anda mungkin pernah membaca, ‘wallahu khobirun bima
ta’malun’. Pernah dengar kan sebelumnya? Coba kita bagi kalimat tadi
kedalam 3 bagian: 1. Allah 2. Khobir 3. Bima Ta’malun. Pernah dengar
‘Wallahu bima ta’maluna khobir’”?, yang ini juga pernah kalian baca.
Yang kedua ini juga punya 3 bagian: 1. Allahu 2. Bima Ta’malun 3.
Khobir. Apakah kedua kalimat tadi tersusun atas bahan dasar yang sama?
Kata Allah ada, kata Khobir ada, kata Bima Ta’malun juga ada. Apakah ada
bedanya? Allahu khobirun bima ta’malun, dengan wallahu bima ta’maluna
khobir. Ada bedanya kan? Terjemahan dari dari 2 kalimat ini, baik itu
dalam bahasa Inggris, Urdu, Spanyol, Farsi atau Bahasa Jerman, kamu akan
dapati artinya sama persis untuk 2 ayat ini. Artinya, “Allah sungguh
amat mengetahui segala yang kamu lakukan”, diartikan sama persis. Tapi
apakah Allah mengatakan 2 hal yang sama? Tidak, Dia mengatakan 2 hal
yang berbeda. Maka permasalahan seperti ‘Kamu cukup baca terjemahan
bahasa Inggrisnya (Indonesia -red) saja.’ Atau yang lain bilang: “Ah…
saya sudah pernah baca semua bagian al-Qur’an terjemahan.” Kamu belum
membaca Al-Qur’an yang sesungguhnya. Ini tidak bisa dibaca sepintas
saja.
Al-qur’an
perlu dibaca terus menerus oleh pembacanya, bila ia memang ingin
memahaminya. Kamu tidak bisa baca sekali, lalu langsung paham. Memahami
al-Qur’an itu bukan barang murah, ini mahal harganya. Kamu harus bayar
dengan waktu dan usaha. Kamu tidak akan paham bila membaca iseng-iseng
sekilas saja. Dan yang membaca sekilas saja, kebanyakan dari mereka itu
menyesatkan. “Saya dengar dan baca suatu ayat di Al-Qur’an yang
mengatakan hal ini”, mereka tak paham bahasa Arab, tapi mereka berani
berargumen atas ayat itu.
Ini
contoh kasus untuk poin yang keempat tadi, dari segi perbendaharaan tata
bahasa. Ada perbedaan jika Allah mengatakan, ‘la roiba fihi’. Apa bunyi
terakhir yang kamu dengar pada kata ‘roib’? roiBA. Allah pun
mengatakan, ‘la khaufUN alaihim walahum yah zanun’. Di kata ‘khauf’ kamu
tidak mendengar khaufA tapi khauFUN. Tapi di kata ‘roib’ tadi, Allah
tidak menyebut ‘roibUn tapi ‘roibA’. Di kata ‘khauf’, Allah mengatakan
‘khauFUN’. Yang 2 tadi itu tidak bisa diterjemahkan dengan cara yang
sama karena mereka tidak menggunakan prinsip yang sama dalam bahasa
Arab. Mereka 2 hal yang berbeda. Butuh cara penterjemahan yang berbeda.
Tapi tidak semua terjemahan memiliki sensitivitas seperti ini. Sangat
sulit untuk menangkap hal yang seperti ini selain menggunakan bahasa
Arab. Bahasa Arab membuat semuanya jelas, ia memiliki bagian yang tidak
dimiliki oleh bahasa lain. Ini bukan untuk menghina bahasa Inggris, Urdu
atau bahasa lainnya. Ingatlah, bahwasanya semua bahasa itu datangnya
dari Allah. Allah sendiri yang mengatakan; “Allah mengajarkan manusia
pandai berbicara.” (QS: 55:4 ). Tidak peduli kamu pandai berbicara
bahasa Tiongkok, Swahili atau bahasa suku pendalaman Autralia, semuanya
itu dari Allah. Kepandaian kita berbicara itu dari Allah Azza wa Jalla.
Allah hanya mengambil 1 bahasa dan meninggikannya di atas bahasa yang
lain dengan cara memberinya kejelasan yang luar biasa. Ini penting
karena hal terburuk yang mungkin terjadi di dalam suatu agama adalah
salah penafsiran. Apakah kamu tahu, kesalahan penafsiran di dalam agama
kristen berasal dari mana? Berawal dari terjemahan.
Kebingungan
dalam penterjemahan seperti ini, dihindarkan oleh Allah dengan memberi
Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang amat sangat jelas.
Tidak Hanya Membaca dan Menghafal, Tapi Juga Memahami Al Qur’an
Itu tadi
beberapa poin dari al-Qur’an. Sekarang bagian selanjutnya. Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu kita, mungkin kamu sering
mendengarnya di dalam Khutbah. Ada hadits dari shahih Bukhori r.a. dan
juga dari shahih Muslim r.a. :
“Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Kita
semua tentu setuju bahwa orang-orang terbaik yang paham kata-kata
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah para sahabat. Pemahaman
saya akan hadits itu terbatas bila dibandingkan dengan Ibnu Abbas ra,
Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. dan para sahabat. Karena mereka hadir di sana
ketika sang guru (Nabi Muhammad) sedang mengajar. Ketika kita mengutip
hadits ini: ‘Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari
al-Qur’an dan mengajarkannya.’ Maka kamu berkata: “Saya akan ajarkan
anak saya Al-Qur’an”. “Saya akan undang seorang Shaykh, qari kerumah ini
atau di masjid agar anak saya belajar Al-Qur’an”. Ketika kita katakan:
“Anak saya sedang belajar al-Qur’an.” Apa yang biasanya kita maksudkan?
Mereka kan mulai belajar membaca buku iqro, lalu kemudian bertahap
belajar membaca Al-Qur’an, iya kan? Apakah konsep mengajarkan Al-Qur’an
yang dimaksud tadi sudah termasuk bagian pemahaman Al-Qur’an? Tidak.
Rata-rata muslim, bila mereka mengatakan: “Saya akan mengajarkan anak
saya Al-Qur’an”, yang mereka maksudkan itu 2 hal: membaca dan menghafal.
2 inilah yang mereka maksudkan. Harap diingat 2 hal ini, karena akan
menjadi penting untuk kita bahas. Membaca dan menghafal, tolong ingat 2
hal ini. Ubay bin Kaab r.a. ketika itu sedang menasehati para sahabat.
Para sahabat sebagian besar berasal dari mana? Dari Arab, Pakistan,
Bangladesh atau dari mana? Mereka itu orang-orang Arab.
Dia
menasihati para sahabat: ajarkan anakmu bahasa Arab, seperti kamu
ajarkan pada mereka cara menghafal al-Qur’an. Sahabat nabi dari Arab,
menasihati sahabat nabi lainnya yang juga dari Arab, agar mengajarkan
anak mereka Bahasa Arab. Sama pentingnya seperti mereka menghafal
Al-Qur’an. Ini adalah yang paling diutamakan oleh para sahabat.
Umar bin
Khathab mengatakan; “Pelajari Bahasa Arab karena itu bagian dari
agamamu.” Itu yang Umar katakan. Pernyataan lain dari Umar r.a. ia
berkata: “Tidak boleh seorang pun mengajarkan Al-Qur’an kecuali mereka
mengerti Bahasa Arab.” Karena mereka bisa membuat kesalahan. Ini adalah
insiden yang terkenal yang terjadi di masa Umar r.a. Tapi satu ini yang
paling ‘nendang’ yang akan saya sampaikan, yang ketika saya membacanya,
saya sampai harus berhenti dulu membacanya. Di Surat Al-Baqarah, Allah
menceritakan suatu kaum sebelum kita yang telah Allah berikan kitab.
Allah telah berikan Shariah dan kitab di masa sebelum kita. Mereka
memiliki Nabi, punya kitab dan juga ada shariahnya, sama seperti kita.
Mereka tidak adil dengan kitab dan Nabi mereka. Bahkan di satu ayat
Allah menjelaskan kegagalan mereka atas kitabnya. (QS: 2: 78) “Waminhum
ummiyyuuna la ya’lamuunaalkitaba illa amaniyya wa-in hum
illayadzhunnuun”. Artinya : “Diantara mereka ada yang buta huruf, tidak
mengetahui al-Kitab, kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya
menduga-duga.” Kata ‘amaniy’ berarti mereka tidak tahu apa yang kitab
itu katakan, mereka hanya berfikir mereka tahu apa yang kitab itu
katakan. Ini adalah yang umat terdahulu lakukan dengan kitab mereka.
Kitab apa yang sedang kita bicarakan? Kitab Taurat.
Sekarang
dengarkan ini. Kata yang digunakan oleh Allah, untuk sesuatu yang
mereka tidak tahu tapi mereka fikir tahu (angan-angan) adalah kata
‘amaniy’. Salah satu mufasir al-Qur’an besar, kemungkinan yang terbesar
diantara semuanya, Ibnu Abbas r.a. dan Qatadah r.a. Ketika mereka
membuat tafsir ayat ini, kamu tahu apa yang mereka katakan?. Yang mereka
katakan adalah, “Kata ‘amaniy’ pada ayat ini berarti, apa yang kaum itu
lakukan saat itu hanyalah tilawah.” Kalian tahu kan tilawah itu artinya
apa? Membaca. Kemudian mereka lanjutkan dengan menjelaskan Bani Israil
saat itu, apa yang mereka jelaskan? “Yang mereka tahu hanya menghafal
dan membaca tanpa pemahaman. Mereka tidak paham apa yang ada di
dalamnya. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang ada di dalamnya.”
Ketika
saya katakan, kita mengajarkan anak kita, apa 2 hal yang sesungguhnya
dimaksudkan? Membaca dan menghafal. Yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas itu
siapa? Ia menjelaskan Bani Israil dan kejahatan mereka pada kitabnya.
Dan ia berkata, yang mereka lakukan pada kitabnya hanyalah membaca dan
menghafal. Hal terburuk yang mereka lakukan adalah mereka tidak paham
apa yang dikatakan oleh kitabnya.
Penjelasan
ini bisa diterapkan pada umat muslim saat ini. Terdapat suatu kaum yang
mencintai kitabnya, membaca kitabnya dan bahkan menghafal kitabnya,
tapi kebanyakan dari mereka yang bahkan hafal al-Qur’an tidak paham apa
maksud dari yang mereka baca. Ini maksudnya sedang menjelaskan siapa?
Ini sungguh menakutkan, benar-benar menakutkan. Karena yang dijelaskan
oleh ayat ini bukanlah kaum Muslim tapi menjelaskan Bani Israil umat
terdahulu yang gagal. Ini benar-benar permasalahan yang serius.
Orang Arab Juga Harus Belajar Tata Bahasa Arab
Lihatlah
murid-muridnya As-Syafii r.a. Murid-muridnya banyak yang orang Arab.
Ketika hendak mengajar Bahasa Arab, muridnya berkata: “Kita tidak perlu
belajar bahasa Arab, kami sudah bisa bicara bahasa Arab kok.” Lalu Imam
Syafii berkata, “Hal yang paling kutakutkan adalah murid yang sedang
menuntut ilmu namun mereka menolak belajar tata bahasa Arab.” Terdapat
suatu hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang
mengatakan; “Barang siapa yang mendustai perkataanku dengan maksud
tertentu, maka ia telah menjamin tempatnya sendiri di Neraka.” Ia
berkata, hadits yang ini yang membuatku takut terhadap muridku yang
tidak mau belajar Bahasa Arab dengan serius karena mereka mungkin akan
membuat kesalahan dalam tata bahasa Arab pada saat mengkaji hadits.
Oleh karena itu, mereka mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak
dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang-orang
seperti ini telah menjamin tempatnya di Neraka. Mereka ini orang Arab,
saling memberi tahu ke sesama orang Arab. Beginilah betapa seriusnya
mereka membahas masalah ini. Ini sungguh wajib bagi setiap muslim. Jika
kamu perhatikan para sahabat, mereka sangat memperhatikan pentingnya
Bahasa Arab.
Dahsyatnya Dampak dari Memahami Al Qur’an
Jika
kamu perhatikan para ulama besar, mereka sangat memperhatikan pentingnya
Bahasa Arab. Mengapa? Karena itulah yang menjaga agama. Menjaga
integritas agama kita. Menjaga pemahaman yang tepat dari agama ini. Dan
mungkin yang terpenting dari semuanya adalah Bahasa Arab dapat menjaga
sholatmu. Bahasa Arab akan menjaga perilaku kita dalam berdiri di
hadapan Allah. Ketika Imam sedang membaca kata-kata dari Allah, kita
seharusnya merasakan pengalaman spritual, karena perkataan dari Allah
sedang dibacakan. Mukjizat Allah sedang dihadirkan di hadapan kita.
Namun, kita malah berdiri sambil menguap. Karena tidak paham apa yang
dibacakan imam. Ini kan tragis.
Kata-kata
yang sama sering dibacakan pada kita di saat sholat tarawih. Kata-kata
yang sama dibacakan juga kepada Umar r.a. ketika ia belum menjadi muslim
kala itu. Ketika Nabi Muhammad membacanya, Umar kabur karena takut.
Kata-kata yang sama dibacakan juga kepada Tufail Ibnu Amar Ad-Dausi,
seorang pemimpin suku yang datang ke Mekah. Ia lihat Nabi Muhammad
membaca Al-Qur’an, ia berkata: “Saya dengar orang ini bisa bikin orang
jadi gila bila mendengarnya.” Maka ia sumbat telinganya, lalu ia lari.
Kemudian ia berhenti dan berkata: “Ngapain saya lari? Itu kan cuma
kata-kata, saya bisa tahan kok.” Maka ia lepas sumbat telinganya,
kemudian ia kembali dan mendegar yang diucapkan Rasulullah, ia langsung
bersyahadat, lalu menceritakan ceritanya ini kepada kita. Ia cuma dengar
kata-kata, namun langsung bersyahadat.
Ini (Al
Qur’an) adalah kata-kata yang dibenci oleh orang-orang yang membenci
Rasulullah, seperti Al-Akhnas bin Syuraiq, Abu Sufyan sebelum ia menjadi
muslim, dan Abu Jahal. Apa kamu tahu apa yang orang-orang ini lakukan
menurut sejarah Ibnu Ishaq? Mereka biasa mengunjungi rumah Rasulullah
setiap malam. Yang satu nguping di satu sisi dinding untuk dengerin
Al-Qur’an, yang satu lagi nguping di sisi satunya, dan sisanya nguping
dari sisi lainnya. Mereka diam-diam pulang sebelum terbit matahari, tapi
kemudian mereka saling berpapasan. Mereka pun saling bertanya: “Kamu
lagi apa di sini?”, “Lah kamu sendiri lagi ngapain disini?”. Mereka
ketagihan mendengarkan Al-Qur’an, mereka saling bersumpah untuk tidak
datang lagi, tapi mereka saling berpapasan lagi keesokan harinya. Mereka
bikin sumpah lagi, tapi saling berpapasan lagi di hari yang ketiga,
mereka diam-diam ingin mendegarkan Al-Qur’an. Mereka berkata: “Jika ada
yang lihat kita, maka kita bisa kehilangan wibawa” (karena mereka-lah
yang bilang: “Jangan dengarkan orang ini.”)
Orang-orang
kafir pada zaman itu, lebih ketagihan untuk mendegarkan Al-Qur’an
ketimbang umat Islam di zaman sekarang. Apa gak sedih dengarnya? Ini kan
tragis!. Ada yang efeknya lebih hebat lagi, di kisah Utbah Ibn Rabi’ah.
Ia mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia itu tukang
debat politik, suka menghina lawan bicaranya, sering mengintimidasi
lawan bicaranya ketika berdebat. Ia berkata, “Kita tidak bisa mengatasi
Muhammad” (ini orang kafir yang berbicara, mereka tidak menambahkan
‘Shallalahualaihi wassalam’ seperti kita). “Gimana kalau kamu saja yang
berdebat dengannya, tunjukkan siapa yang lebih kuat?” Ia akhirnya pergi
berbicara kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang
Quraish menonton dari kejauhan. Ini akan menjadi pertandingan yang seru
menurut mereka. Ia akhirnya menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam. Ia kemudian mulai menghinanya. “Kamu mau apa? Uang? Perempuan?
Kamu ingin kekuasaan? Apa itu yang menyebabkan kamu mengacaukan suku
kita?” ia terus menghina Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rasulullah
hanya diam tenang dan mendengarkan, dan ketika orang itu sudah selesai
membentak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata padanya:
“Apa kamu telah selesai bicara? Bisa saya mulai bagian saya?” Utbah
berkata: “Silahkan, coba kita lihat apa yang akan kamu katakan.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mulai membaca Al-Qur’an
dan dalam beberapa detik, Utbah tidak bisa menahan air matanya kemudian
ia berusaha menutup mulut Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“Berhenti!
Saya tidak tahan mendengarnya lagi”, sampai kemudian Rasulullah sampai
pada ayat sajadah, lalu beliau pun sujud. Sehingga Utbah bisa pergi,
orang Quraisy melihatnya dan berkata “Mukamu ketika pergi berbeda dengan
ketika kamu kembali (seperti pasca operasi pembenahan muka).” Dia tidak
menjadi muslim, akan tetapi ia sungguh telah ditaklukan oleh Al-Qur’an.
Yang seperti itu tidak bisa dilakukan oleh Al-Qur’an terjemahan.
Kekuatan al-Qur’an yang seperti itu hanya ada pada Al-Qur’an Bahasa
Arab. Yang seperti itu yang seharusnya kita rasakan ketika kita sedang
sholat.
Bahasa Arab Dapat Menjaga Sholat
Menurut
kamu, khusu’ itu apa? Penuh perhatian dalam sholat? Fokus dalam sholat?
Rendah hati ketika sholat? Allah Azza wa Jalla menjelaskan arti ‘khusu’
untuk kita. QS: Al-Hadid: 16….., “Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka”. Hatinya harus
tunduk karena mengingat Allah. Kemudian Allah menjelaskan, “Maksudnya
apa mengingat Allah itu?”. Kemudian Allah menjelaskan, “Mengingat Allah
dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” Kebenaran apa
yang telah turun itu? Al-Qur’an.
Sholat
adalah suatu momen ketika hati kita tunduk bila mendengar ayat-ayat
Allah. Tapi jika kamu tidak paham apa yang dibacakan dalam sholat dan
kamu sungguh-sungguh berusaha untuk fokus.
Ada anak
belasan tahun sedang berdiri untuk sholat dan tidak paham arti
bacaanya. Ia terus menatap karpet dan ia malah bilang “Jahitannya kurang
yang bagian sini, yang satu kesini yang itu malah kesana, gak simetris
nih.” Atau mereka berusaha menutup mata sambil membayangkan ada ka’bah
di hadapannya. Mereka melakukan hal-hal kreatif semacam ini guna
mengejar satu hal. Apa itu? Untuk fokus memperhatikan ayat yang sedang
dibacakan. Allah berbicara kepada kita melalui Al-Qur’an. Ini seperti
pengalaman tersendiri bagi orang yang beriman. Kekosongan itu perlu
diisi. Demi Allah jika kita bisa lakukan, maka sebagian besar masalah
akan terselesaikan. Karena itu artinya, 5 kali sehari kita akan menerima
dan mengerti nasihat dari Allah untuk hidup kita. Itulah gunanya
sholat, kita memperoleh bimbingan dari Allah. Ketika kita berdiri dan
membaca Al-Qur’an, ketimbang kita yang membaca Al-Qur’an, Al-Qur’an lah
yang ‘membaca’ diri kita.
Saya
beri 1 cerita singkat tentang diri saya. Saya Alhamdulillah memiliki 4
orang anak, yang tertua namanya Husna. Berapa banyak diantara anda yang
memiliki anak lebih dari 1 anak? Yang punya banyak anak akan mengalami
ini juga. Ketika kamu punya anak pertama, semuanya terlihat mengagumkan.
“Ya Tuhan dia ada giginya, Ya Tuhan dia bisa berdiri, Ya Tuhan dia
berkata sesuatu.” Padahal bayi itu cuma bilang “Yeah”. Iya kan? Semuanya
jadi menakjubkan. “Apa kamu rekam?”. Tapi kalau sudah punya anak yang
ketiga atau keempat, “Siapa nama kamu tadi?”. Tapi setiap yang anak
pertama lakukan, selalu spesial. Saya sedang sholat di rumah dan anak
perempuan saya di samping saya. Allah memberikan kelebihan pada manusia,
Dia tak hanya memberikan penglihatan di depannya saja, tapi juga di
samping juga, iya kan? Saya sedang sholat tapi saya bisa lihat anak
saya. Dan untuk pertama kalinya, dia meletakkan tangannya di lantai
kemudian ia dorong dan kemudian ia berdiri untuk pertama kalinya! Ini
anak pertama saya, dia berdiri untuk pertama kalinya dan saya sedang
sholat. Maka ketika saya sholat, saya spontan melakukan hal seperti ini
(menganga). Ini hal besar. Dan ketika itu terjadi, atas rahmat Allah
saya sedang membaca surat Al-Munaafiquun dan ayat selanjutnya yang saya
baca adalah (QS: 63: 9)…. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah
hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang
merugi.” Subhanallah.
Apa yang
membedakan antara kamu tahu apa yang kamu baca dan bila kamu tidak tahu
apa arti ayat yang kamu baca? Kalau saya tidak tahu artinya, maka saya
akan biasa saja dan selesaikan sholatnya. Tapi kalau saya tahu artinya,
maka saya akan lupakan anak saya. Dunia seakan runtuh di hadapan saya
karena Allah langsung menegur saya. Ada bedanya kan? Mungkin inilah
alasan yang paling utama mengapa bahasa Arab itu penting. Itu hal
terakhir yang bisa saya sampaikan akan pentingnya bahasa Arab bagi
muslim.
Niat Karena Allah, Maka Dimudahkan Belajar Bahasa Arab
Rintangan
terbesar bagi seorang Muslim yang tinggal di US (dan Indonesia –red)
terhadap Bahasa Arab adalah keyakinan dirinya sendiri bahwa Bahasa Arab
itu sulit. “Saya suka belajar bahasa Arab, tapi saya tidak bisa kalau
harus pergi 2 tahun untuk pergi ke mesir atau ke Saudi.”
“Tak bisa saya lakukan, saya tidak punya waktu, saya juga punya keluarga yang harus dinafkahi, saya tidak bisa melakukannya.”
“Sulit,
saya sudah pernah nyoba, saya pernah datang ke pertemuan dan beli
beberapa buku untuk belajar Bahasa Arab, kemudian saya mulai baca 1-2
halaman. Ketika masuk halaman ketiga, topiknya tentang pelaku, kata
kerja, frase kata ganti, dan saya bekata: Subhanaka Allahuma wa
bihamdika, ash-hadu alaa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik,”
Bukunya ditutup dan masuk rak, padahal masih baru. Banyak terjadi hal
yang seperti ini. Kita punya keyakinan bahwa bahasa Arab itu sulit. Dan
ketika kamu lihat ada orang yang pintar Bahasa Arabnya.” “Masha Allah,
orang itu pinter banget.” Seolah-olah Allah menjadikan hal itu mudah
baginya, ia seolah tidak butuh usaha apapun, pokoknya ia langsung bisa.
Tapi
kalau kamu lihat seorang pelukis atau pembuat kaligrafi. Kamu lihat
betapa mudahnya mereka mengerjakan itu. Kamu gak lihat berjam-jam yang
mereka butuhkan untuk mereka melakukan hal ini. Yang kamu lihat hanya
hasil jadinya saja. “Masha Allah, orang ini talentanya luar biasa. Allah
memberkatinya.” Allah memberkatinya setelah ia berkeringat
bertahun-tahun. Ada orang membaca Al-Qur’an dengan indah. “Allah berikan
dia suara yang indah.” Tidak, pertama kali dia membaca, dia tidak
pernah berhasil membaca Audzubillah dengan syekhnya setelah 35 kali
baca. Selama 2 bulan Cuma baca al-Fatihah, tapi dia tetap lanjutkan.
Maka
pertama-tama kita harus hilangkan dulu pikiran bahwa yang berhubungan
dengan Al-Qur’an itu sulit. Karena janji Allah adalah (QS: 54: 17)…
Allah sendiri yang berjanji “Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an
untuk mengingat-Ku.” Allah telah menjamin, bahwa Al-Qur’an akan
dimudahkan. Allah tidak bilang bahwa akan dimudahkan hanya untuk orang
Arab. Allah tidak bilang bahwa akan dimudahkan untuk orang Asia
Tenggara, karena mereka bisa bahasa Urdu. Allah mengatakan, Allah akan
memudahkan bagi semua orang. Dia cuma minta satu syarat. Kamu tahu apa
syaratnya? Akan dimudahkan oleh Allah, bila tujuanmu belajar Al-Qur’an
adalah untuk mengingat Allah (dzikr). Jika itu tujuanmu, maka Allah yang
memberikan jaminan kemudahan mempelajarinya.
Tapi
kemudian Dia memberikan pertanyaan. Subhanallah, pertanyaan yang luar
biasa, “Adakah orang yang secara sadar ingin berusaha mengingat Allah?”.
Mengingat siapa? Mengingat Aku. Aku mudahkan Al-Qur’an untuk
mengingat-Ku. Siapa yang mengingat Allah? Maka apa yang ayat ini
ajarkan? Ayat ini mengajarkan kita, bahwa dzikir pada Allah yang paling
mulia itu apa? Al-Qur’an. Allah menyebut Al-Qur’an sebagai Adz-Dzikir,
pengingat yang paling mulia. Kamu ingin berdizkir pada Allah? Dzikir
terbaik adalah yang Allah pilihkan sendiri untukmu. Itulah perkataan
Allah.
Dia
berkata, siapapun yang datang ingin mengingat-Ku Aku akan mudahkan
untuknya. Jadi belajar Tajwid menjadi mudah, belajar huruf Arab jadi
mudah, belajar kosa kata jadi mudah, belajar tata bahasa Arab jadi
mudah, belajar Tafsir menjadi mudah, menghafal al-Qur’an menjadi mudah.
Semua menjadi mudah karena apa yang Allah katakan? Allah-lah yang
membuatnya mudah. Jutaan anak di seluruh dunia, tanpa memiliki kemampuan
ingatan fotografis, bahkan diantaranya sama sekali tak paham Bahasa
Arab, tapi sanggup menghafal al-Qur’an. Ini memenuhi janji yang
membuatnya jadi mudahkan? Subhanallah, Dia membuatnya menjadi mudah.
Ketika Ilmu Menghilang, Maka Kiamat Akan Datang
Ada
orang yang saya kenal, dia lahir dari keluarga non muslim. Dia
dibesarkan dalam budaya barat. Di akhir umur 30 tahun dia mengucapkan
syahadat, namun sekarang dia hafal al-Qur’an. Allah-lah yang membuatnya
mudah. Ini bukan pencapaiannya, tapi ini adalah hadiah dari Allah bagi
orang yang ingin mengingat-Nya. Tergantung dari tujuan kita. Itu yang
nomor 1. Nomor kedua, ini hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam yang sangat terkenal, ada 2 hadits yang akan saya bacakan, yang
satu cukup menakutkan yang satunya cukup bikin kita semangat. Yang
menakutkan adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan
tentang akhir zaman, berkaitan dengan satu tanda dari hari kiamat.
Kemudian Ia berkata, “Akan terjadi suatu masa ketika Ilmu menghilang,
ketika Ilmu menghilang maka tanda Kiamat akan muncul.” Yang menarik dari
hadits ini adalah kita tidak tahu tanda apa itu karena apa yang akan
terjadi dalam perisitiwa ini, sangat mengejutkan bagi para sahabat,
sehingga mereka melupakan tandanya.
Apa yang
terjadi selanjutnya? Ibnu Lubaid r.a. bertanya kepada Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang
wahai Rasulullah? Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang ketika kami
membaca Al-Qur’an? Kami membuat anak kami pun membacanya, anak itu
membuat anaknya nanti membacanya.” Tunggu sebentar, Nabi Muhammad
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengatakan Al-Qur’an akan menghilang,
apa yang beliau katakan? “Ilmu yang akan menghilang”. Apa yang para
sahabat pahami tentang ilmu? Apa yang mereka katakan? “Bagaimana mungkin
ilmu bisa menghilang ketika kami masih memiliki Al-Qur’an?”. Ketika
para sahabat mendengar ilmu, maka yang pertama muncul dipikiran mereka
adalah Al-Qur’an. Ini adalah pendidikan fundamental bagi mereka.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahukan pada kita, dalam
bahasa hadits yang lain. “Barangsiapa yang berniat memiliki ilmu,
berpeganglah pada Al-Qur’an, inilah ilmu”, Haditsnya shahih dari
al-Bukhari.
Kita
kembali ke yang tadi. Ketika ia mengatakan: “Bagaimana mungkin ilmu bisa
menghilang? Rasulullah menjadi sangat marah. Kamu tahu apa yang beliau
katakan? “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang Yahudi dan
Nashrani? Apa yang ada di tangannya? Injil dan Taurat. Tapi mereka tidak
mengambil darinya. Apakah kamu tidak memperhatikan itu?”. Maka nabi
jelaskan, bahwa akan datang suatu masa ketika ilmu akan menghilang.
Al-Qur’an nya masih ada, seperti mereka yang memiliki Injil dan juga
Perjanjian Lama. Bahkan bagian yang telah mereka ubah pun tak mereka
ikuti. Mungkin kamu berkata, “Ah mereka kan ubah kitabnya sendiri.” Tapi
bagian yang dirubah itu pun tak mereka taati. Kaum muslimin pun
memiliki kitab dari Allah di hadapannya. Ada halal haram, keyakinan,
semuanya, ada di hadapan mereka. Apakah mereka mengambil darinya? Tidak.
Sebagian besar tidak mengambil manfaat. Ini adalah bagian yang
mengerikannya, yang insha Allah semoga kita perhatian akan hal ini.
Derajat Orang Yang Ahli dan Yang Kesulitan Mempelajari Al Qur’an
Sekarang
saya ceritakan hadits yang positif, yang saya janji akan selesaikan
ceritanya dalam 11 menit ke depan. Mungkin ini adalah hadits favorit
saya jika dikaitkan dengan belajar Bahasa Arab. Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang ahli dalam Al-Qur’an akan berada
bersama malaikat yang mulia.” Malaikat yang paling mulia, yang
derajatnya paling tinggi, yang sanggup menyentuh lauful mahfudz. Siapa
yang akan bersama mereka? Masih ingat? Orang yang Ahli dalam Al-Qur’an.
Yang ahli membaca, yang ahli dalam pengetahuan Al-Qur’an, yang ahli
menghafal Al-Qur’an, yang ahli tajwid dan lain-lain, akan mencapai
derajat itu. Tapi itu bukan kita, kita kan bukan orang yang ahli. Lalu
bagaimana dengan kita? Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang
terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, ia bersusah payah mempelajarinya.
Ia terbata-terbata.” Ia tidak bisa mengucapkan huruf ‘Ain’ melalui
tenggorokannya. Setiap ia coba ucapkan, yang diucapkan adalah huruf
‘En’. Setiap mengucap ‘dod’, yang terucap justru ‘zod’. Sering terjadi
yang seperti itu. Harusnya mengucapkan ‘dzikir’ tapi malah ‘dziker’.
Tidak bisa mengucapkannya, sulit juga memahami tata Bahasa Arab, menemui
kesulitan dalam belajar Bahasa Arab, ia hadapi banyak tantangan. Ini
kategori yang kedua. Kategori yang pertama tadi adalah orang yang Ahli.
Kategori yang kedua adalah orang yang kesulitan mempelajarinya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang itu mendapat
pahala dua kali lipat dari kategori yang pertama.” Orang yang mengalami
kesulitan.
Kebanyakan
orang bilang: “Bahasa Arab itu sulit, sudah dicoba tapi emang sulit.”
Jika itu terasa sulit, maka saya iri kepada anda. Saya harus cemburu
pada anda, karena anda mendapat dua kali lipat dari pada orang yang
Ahli. Apakah ada alasan lagi untuk tidak mempelajari al-Qur’an?
Satu-satunya alasan adalah rasa sulit, tapi alasan yang itu pun
‘dihilangkan’ oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau kamu
sulit, kamu dapat dua kali lipat pahalanya. Maka tidak ada alasan lagi.
Kalau kamu yang kuliah dan mengambil mata kuliah yang dosennya sulit,
membosankan, lalu kamu bilang, “Ah sudah deh, di ulang saja semester
depan lah.” Kalau terasa sulit, kamu cari-cari alasan untuk menundanya.
Kalau kitab nya Allah yang dirasa sulit, justru itulah alasannya kamu
harus tetap belajar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam merubah
cara kita bersikap. Ini suatu tujuan bentuk penyegaran atas tujuan kita
belajar. Bila tujuannya baik, maka Allah akan membukakan pintu untukmu.
Kamu cukup perbaiki tujuanmu, itu saja. Kamu akan lihat Allah akan
membuka pintu.
Hasrat karena Allah, yang Membuat Ingin Belajar
Kamu
bisa berdebat teoritis, apakah Bahasa Arab itu penting atau tidak. Saya
buktikan kalau Bahasa Arab itu penting. Tapi kalau kecintaan pada
Al-Qur’an dan keinginan untuk mempelajarinya belum menyentuh hatimu.
Bila itu terjadi, maka pengetahuan, dalil atau fatwa apapun tidak akan
dapat membantumu. Kamu harus berhasrat kalau kamu ingin sholatmu lebih
baik. Kamu ingin tangisan ketika membaca Al-Qur’an karena kamu paham
perkataan Allah. Hasrat seperti itu yang membuatmu mau belajar. Saya
ingin merasakan mukjizat Al-Qur’an dalam bahasa Rabb. Apa sih yang
membuat bahasa luar biasa. Melalui bahasa ini perkataan Allah
diwahyukan. Mengapa Allah pilih bahasa ini untuk kata-katanya.
Insha
Allah jika Allah berkehendak mempertemukan kita kembali, saya akan
tunjukan keajaiban dari kata ‘Alhamdulillah’ di surat al-Fatihah.
‘Alhamdulillahi raabil alamin.’ Kenapa Allah tidak menyebut
‘Innalhamdalillah’ saja, kalimat yang biasa dibacakan oleh Khotib. Dia
tidak menyebut ‘Lillahilmahd’ tapi ‘Alhamdulillah’. Dia tidak menyebut
Ihmadullah, Nahmadullah, benar kan? Allah secara spesifik benar-benar
memilih kata ‘Alhamdulillah’. Mengapa kata yang satu ini lebih baik dari
pada kata-kata yang lainnya? Apa yang membuatnya sempurna? Ini adalah
satu bentuk kajian, dimana kamu menghargai kesempurnaan dari setiap kata
dari Allah. Bagaimana kamu yakin kata ini datang dari Allah, tidak
mungkin diciptakan oleh orang lain. Diantara anda mungkin ada yang
merupakan siswa dari jurusan sastra Inggris atau sejarah yang banyak
baca kajian sastra. Subhanallah, kamu akan hargai Al-Qur’an ini lebih
dari sastra apapun. Semua sastra dari manapun tidak akan bisa menandingi
keindahan satu surat dalam al-Qur’an. Kamu akan hargai, ini bukan cuma
teori tapi kenyataan. Jika kamu menjadi murid yang mempelajari kitab
ini, insha Allah.
Cara Belajar Bahasa Arab
Saya mau
jelaskan bagaimana cara belajar Bahasa Arab. Langkah terbesar untuk
belajar bahasa Arab adalah Tujuanmu. Saya ingin mengingat Allah, itulah
mengapa saya belajar. Bukan karena ingin memesan makanan di restoran
Arab. Saya belajar karena ingin mengingat Allah. Jika itu tujuanmu,
tugasmu sudah selesai. Karena Allah-lah yang kemudian akan memudahkan.
Masalah
yang kedua, bahan kedua yang kamu butuhkan. Program kami ini tercipta
karena sebuah ayat yang kami pikirkan, bahwa Allah memfasilitasi
al-Qur’an. Saya mulai belajar Bahasa Arab di tahun 2000. Sebelum tahun
2000 saya tak paham Bahasa Arab. Saya mulai belajar dari satu guru yang
satu ke guru yang lain, dan ketika itu saya merasa Bahasa Arab itu
sulit. Istilah-istilahnya sulit, kamu dituntut banyak menghafal, dan
banyak tekanannya. Dan saya sadari perbedaan gaya mengajar orang timur
dengan gaya mengajar orang barat. Yang paling terlihat, di kalangan
orang muslim, tidak ada istilah guru yang buruk. Yang ada hanya murid
yang buruk. Maka, kalau muridnya gagal, itu bukan salah gurunya, tapi
itu kesalahan muridnya sendiri. Bahkan kalau gurunya tidur di kelas,
tetapi muridnya lah yang salah. Tidak ada istilah guru yang buruk.
Tapi di
Amerika, tidak ada istilah murid yang buruk. Pokoknya gurunya yang
salah. “Ah…profesor saya gak bisa jelasin apa-apa, dia gak bikin soal
tesnya dengan benar.” “Saya cek myprofessor.com dia Cuma bintang 3”.
Kamu paham kan maksud saya? Ini 2 dunia yang berbeda. Di dunia yang
satu, guru tidak boleh dikritisi tapi di dunia lain guru selalu
dikritisi. Tapi kita tinggal di Amerika, dan kita hidup di tengah
masyarakat konsumen. Di masyarakat konsumen, pelanggan itu selalu benar.
Siapa yang bayar sekolah? Murid kan. Murid selalu benar. Siapa yang
bakal dipecat dari univesitas? Dosen yang mendapat review buruk.
Pelanggan selalu benar, meski terlihat agak aneh dan kapitalis, terdapat
beberapa kebenaran di dalamnya. Kamu meluangkan waktu, lalu saya bicara
secara monoton dan logat bahasa saya terlalu kental. Saya benar-benar
membosankan bagi anda, kamu mulai akan melihat murid akan sering melihat
jam. Dan mulai membuat kontak dengan satu sama lain. Kamu keluar
duluan, nanti saya menyusul.
Kamu
meluangkan waktumu, karena kamu merasa mungkin ada yang berharga dari
sini. Jika ada syekh yang berceramah dan isinya bagus, maka kamu akan
terus duduk disitu. Tapi kalau membosankan, kamu mulai pergi. Atau
awalnya kamu duduk tegap, lalu sikumu mulai turun, lalu sikumu terus
menjauh dan tertidur. Tapi intinya, program kami didesain tidak melihat
kesalahan ada dari yang belajar. Tapi menunjukan inilah kita, memang
seperti inilah kita. Maka kita harus menciptakan program, yang membuat
murid tetap bangun memperhatikan. Murid merasa kelasnya tidaklah sulit,
tapi mudah. Maka, tekanannya bukanlah di murid, tapi tekanannya ada di
guru.
Ini yang
paling membedakan program Bahasa Arab kami dengan program bahasa Arab
yang lain. Di program yang lain, gurunya akan berkata: “Ini PR mu, saya
sudah ajarkan materinya, kenapa kamu tidak paham? Ada apa denganmu? Apa
tadi saya gak jelaskan dengan benar? Apa perlu diulang?”. Tapi di kelas
kami: “Kamu gak ngerti? Oke saya jelaskan dengan cara lain. Kamu masih
belum mengerti? Oke saya kasih cara lain lagi. Masih gak ngerti juga?
Oke setelah kelas ini saya akan ajarkan khusus buat kamu, tapi saya
harus pastikan kamu paham. Kamu tidak boleh pulang sampai kamu paham.”
Karena tekanannya bukan ada di murid, tapi ada di gurunya. Ini hal
pertama yang membuat program kami berbeda.
Hal
kedua yang membuat kami berbeda adalah ada di perbedaan fokusnya. Bahasa
punya 4 kemampuan: membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Ketika
kamu belajar Bahasa Arab dengan niat Agama, supaya sholatnya lebih
baik, untuk memahami khutbah berbahasa Arab dan lain-lain. Maka kamu
tidak peduli dengan kemampuan berbicara. Ini tidaklah penting untukmu.
Kalau kamu belajar kemampuan berbicara, kamu mau berbicara dengan siapa?
Istrimu? Dia akan bilang: “Biarkan saya sendiri”, kalau kamu ngomong
pake Bahasa Arab. Kamu ngomong dengan temanmu yang orang Arab, kamu
terdengar lucu dan ia akan respon pakai Bahasa Inggris. Maka kesempatan
untuk berbicara pakai Bahasa Arab itu terbatas. Kalau kamu pakai di
tempat kerja kamu bisa dipecat.
Kamu
tidak bisa gunakan di dalam kereta, karena kamu tahu apa yang akan
terjadi. Kesempatan untuk berbicara dalam Bahasa Arab sangat terbatas,
karena kita tinggal di Amerika. Tapi jika saya ajarkan kamu untuk paham
Al-Qur’an, untuk mendengar dan membaca dengan pemahaman. Tapi saya tidak
mengajarkan kamu caranya menulis. Apa kamu perlu bisa menulis untuk
memahami Al-Qur’an? Tidak. Kita bisa pelajari itu nanti. Saya ajari
dulu apa yang benar-benar kamu butuhkan sekarang. Saya ajari kamu paham
dulu. Saya ajari supaya kamu mendengarkan dengan baik dulu. Lupakan dulu
kemampuan berbicara, kita akan pelajari nanti.
Jika
kamu mau belajar Arab lebih lanjut, saya akan ajarkan kemampuan
berbicara juga. Tapi sekarang saya paham apa yang kamu butuhkan. Yang
kita butuhkan adalah supaya kita bisa memperhatikan ketika sholat. Saya
bisa berikan itu dalam 10 hari. Setelah 10 hari itu, kamu akan mulai
memperhatikan ketika Imam membaca kamu memperhatikan dan kamu amati
sesuatu, mulai terasa masuk akal. Lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak
bilang kamu akan paham bahasa Arab dalam 10 hari, itu salah. Itu tidak
akan terjadi. Tapi saya yakin saya katakan, insha Allah kamu akan
memiliki dasar yang kuat dalam Bahasa Arab.
Setelah
itu, bila kamu belajar sendiri akan jadi lebih mudah, buku-buku yang
tadinya kamu simpan, akan jadi mudah untuk kamu baca. Tugas saya adalah
menjelaskan bagian yang sulit menjadi mudah bagimu. Kemudian kalau kamu
mau berkembang harus belajar sendiri, nah itu tugasmu. Tapi saya jamin
tugas yang menjadi tanggung jawab saya.
Saya
jelaskan sedikit tentang programnya, karena waktu saya sudah habis.
Program kami dinamai bayyinah.com dan sudah dimulai dari 2 tahun yang
lalu (ceramah ini di tahun 2009). Dibawakan oleh saya dan 2 rekan.
Sekarang kami terdiri dari 5 orang. Kami sudah berkeliling di
masjid-masjid di negara ini dan kami menangani 10 kelas, 10 malam, 3 jam
setiap harinya, jam 7-10 malam, selama 10 malam. Dan program kami
dihadiri oleh wanita, anak-anak, pria, semua orang. Program kami
Alhamdulillah terdapat 42 komunitas yang terdiri dari 4000 murid.
Saya
amat mengajak kalian semua di sini dan anggota keluarga yang tidak hadir
di sini untuk menghadiri dan benar-benar berpartisipasi penuh di
dalamnya. Karena sekarang daftar komunitasnya semakin membesar. Maka
sulit untuk membawakan program yang sama di kota yang sama dalam waktu
dekat. Maka saya tidak tahu kapan akan diadakan lagi. Kunjungi
www.bayyinah.tv untuk kursus bahasa Arab online dengan Ustad Nouman Ali
Khan. Saya sudah bahas banyak betapa pentingnya mempelajari hal ini.
Jika yang tadi sudah ada di hatimu, maka kamu akan menemukan jalan
kemudahan yang dibukakan oleh Allah.[syahida.com/islamedia]


